Mungkin kalimat di bawah tidak 100% manjur, tapi –minimal- sudah menurunkan derajat ketidak tepatan berkomunikasi.
dan Intonasi pun berperan

Contoh Percakapan-1:
+ “Mandi, nak!”
= “Tunggu bunda”, anak mengatakannya sambil melakukan sesuatu pekerjaan, misalnya sedang nonton televisi, mungkin akan melanjutkan dengan, “Aku sedang asyik acara televisinya nih”
+ “Naak, mandi!”
= “Iya, ich bunda ini gimana sich, tunggu dulu”, anak masih melanjutkan kegiatannya.
+ “Naak!”, ibu makin jengkel, mungkin anak bertambah malas mendengarkan.
Yang lebih baik:
+ “Nak, mandi dulu!”
= “Tunggu bunda”, anak mengatakannya sambil melakukan sesuatu pekerjaan, misalnya sedang nonton televisi, mungkin akan melanjutkan dengan, “Aku sedang asyik acara televisinya nih”
+ “Kamu BOLEH nonton televisi kok. KARENA nanti sewaktu iklan kamu mandi DAN SETELAH itu kalau kamu mau meneruskan lagi silakan”.
= “Iya,bu. Tunggu iklan dulu”
Atau
+ “Kamu boleh nonton kok, siapa bilang tidak boleh. Kamu bisa mandi sekarang, atau nanti sewaktu iklan. SETELAH mandi, mau nonton lagi silakan”
Contoh percakapan-2
“Wah, Zidane itu orang yang hebat lho!”
(Langsung menentukan “role model” yang belum tentu disukai)
+ “Siapa orang yang paling kamu sukai?”
= “Michael Jordan” (ternyata yang disukai Michael Jordan).
+ “Tentunya, kamu bisa menceritakan apa yang membuat kamu suka. Ayah ingin tahu”
Anak bercerita.
+ “Wah, ayah yakin kamu bisa sehebat dia KARENA kamu menyukai dia”
Contoh percakapan-3
Menunjukkan rasa tidak suka atas suatu hal, padahal di sisi lain hal tersebut penting dan diperlukan untuk anak-anak. Seperti menganjurkan sesuatu hal kepada anak dimana kita sendiri tidak suka atau sedang mengurangi.
+ “Bunda suka susu?”
Respons umum bila tidak suka:
= “Tidak, bunda takut kegemukan”. (Padahal, susu sangat penting untuk anak-anak).
Yang lebih baik:
+ “Bunda suka susu?”
= “Kamu tahu kan. Bunda pernah sebesar kamu dan minum susu. Bunda berhenti minum susu setelah bunda dewasa”.
oleh: NSK Nugroho MCH CHT
| < Prev | Next > |
|---|













